Kisah Peniup Seruling
Dahulu kala, hiduplah seorang peniup seruling. Orang memanggilnya si Flute. Ia mencari nafkah dengan memainkan serulingnya keluar kota. Pada suatu malam, Flute tiba di sebuah desa. Karena sudah larut malam, Flute memutuskan untuk menginap di rumah Pak Tani. Ketika Flute memandang keluar jendela, ia melihat sebuah istana. Bangunan itu tidak terawat. Pak Tani bercerita bahwa bangunan tersebut milik bangsawan yang kaya.
Malam itu Flute pergi ke istana dengan membawa lentera. Sesampai di sana, ia masuk dan duduk di meja dalam suatu ruangan. Flute meniup seruling. Pada pukul 23.00 tiba tiba sebuah pintu terbuka. Dua orang bertubuh tinggi besar dan hitam masuk mengusung peti mati. Mereka meletakkan peti mati itu di depan Flute. Kedua orang itu lalu pergi. Flute bergegas membuka tutup peti mati itu. Di dalamnya berbaring seorang tua.
Tubuh orang itu kecil. Rambut dan janggutnya berwarna abu abu. Ia mengangkat Pak Tua itu dan meletakkannya di dekan perapian. Kemudian, tubuh Pak Tua mulai bergerak. Pak Tua itu hidup kembali. Flute di suruh mengikuti Pak Tua menuju sebuah kubah. Disana tergeletak sebuah uang emas. Flute di suruh membagi tumpukan uang logam menjadi dua bagian yang sama.
Jika ada tumpukan yang lebih, Flute akan di hukumnya. Akhirnya, Flute dapat membagi uang menjadi dua sama banyak. Akan tetapi, masih tersisa sekeping uang emas. Oleh Flute, uang itu di belah menjadi dua. Uang itu lalu di letakkan pada tiap tiap uang emas. Satu tumpukan uang emas di berikan kepada Flute. Tumpukan lainnya di berikan kepada orang orang miskin. Kemudian, Pak Tua itu menghilang.