Sabtu, 28 Maret 2015

Kisah Peniup Seruling

                                                               Kisah Peniup Seruling


          Dahulu kala, hiduplah seorang peniup seruling. Orang memanggilnya si Flute. Ia mencari nafkah dengan memainkan serulingnya keluar kota. Pada suatu malam, Flute tiba di sebuah desa. Karena sudah larut malam, Flute memutuskan untuk menginap di rumah Pak Tani. Ketika Flute memandang keluar jendela, ia melihat sebuah istana. Bangunan itu tidak terawat. Pak Tani bercerita bahwa bangunan tersebut milik bangsawan yang kaya.

          Malam itu Flute pergi ke istana dengan membawa lentera. Sesampai di sana, ia masuk dan duduk di meja dalam suatu ruangan. Flute meniup seruling. Pada pukul 23.00 tiba tiba sebuah pintu terbuka. Dua orang bertubuh tinggi besar dan hitam masuk mengusung peti mati. Mereka meletakkan peti mati itu di depan Flute. Kedua orang itu lalu pergi. Flute bergegas membuka tutup peti mati itu. Di dalamnya berbaring seorang tua.

         Tubuh orang itu kecil. Rambut dan janggutnya berwarna abu abu. Ia mengangkat Pak Tua itu dan meletakkannya di dekan perapian. Kemudian, tubuh Pak Tua mulai bergerak. Pak Tua itu hidup kembali. Flute di suruh mengikuti Pak Tua menuju sebuah kubah. Disana tergeletak sebuah uang emas. Flute di suruh membagi tumpukan uang logam menjadi dua bagian yang sama.

          Jika ada tumpukan yang lebih, Flute akan di hukumnya. Akhirnya, Flute dapat membagi uang menjadi dua sama banyak. Akan tetapi, masih tersisa sekeping uang emas. Oleh Flute, uang itu di belah menjadi dua. Uang itu lalu di letakkan pada tiap tiap uang emas. Satu tumpukan uang emas di berikan kepada Flute. Tumpukan lainnya di berikan kepada orang orang miskin. Kemudian, Pak Tua itu menghilang.

Sabtu, 17 Januari 2015

Tempayan Retak

                                                                     Tempayan Retak

          Di sebuah desa terpencil, hiduplah Pak Tua. Pak Tua hidup dari berjualan air bersih yang diambilnya dari gunung. Alat yang digunakannya adalah sebuah pikulan kayu dan dua buah tempayan. Pak Tua menjual air itu ke penduduk desa. Pada suatu hari, sebuah tempayan milik Pak Tua retak. Tempayan itu memang sudah tua. Setiap Pak Tua mengusung pikulan, air dalam tempayan belakang menetes.

          Perjalanan Pak Tua cukup jauh. Ia harus melewati jalan setapak yang menurun. Kemudian melewati padang dan semak-semak. Padang itu sebenarnya indah karena ditumbuhi bung-bunga liar. Akan tetapi, pohon pohon besar ditempat itu sangat sedikit. Akibatnya, padang itu menjadi gersang karena terkena sinar matahari langsung. Bunga-bunga aneka warna tidak terlindungi dari sinar matahari yang terik. Pak Tua selalu merasa haus bila melewati tempat itu.

          Dari hari ke hari, retakan di tempayan Pak Tua semakin lebar. Air yang menetes semakin deras. Pak Tua belum mau mengganti tempayan itu. Ia amat menyayangi kedua tempayan yang telah memberinya nafkah itu.

          "Pak Tua, air yang kau antarkan semakin hari semakin berkurang saja, seharusnya tempayan itu diganti dengan tempayan baru," saran seorang pelanggannya.

          Pak Tua hanya tersenyum dan mengangguk.

          Betapa sedihnya si tempayan retak. Ia merasa tidak berguna lagi. Apalagi si tempayan, temannya selalu melecehkannya.

          Si tempayan retak amat sakit hati. Apa yang dikatakan temannya itu memang kenyataan. Dirinya sudah tidak berguna. Tempayan retak itu sedih setiap kali Pak Tua mengisi tubuhnya dengan air.

          "Pak Tua, buang saja diriku yang sudah tidak berguna ini!" pinta si tempayan retak.
 
          Pak Tua meletakkan pikulannya. Ia menghampiri tempayan retak dengan iba.

          "Tidak. Kamu telah berjasa, tempayanku. Bukan salahmu jika kamu menjadi retak ," kata Pak Tua menghibur.

          Pada suatu hari, tempayan retak sudah tidak kuat lagi menanggung deritanya.

          "Pak Tua, lebih baik kau hancurkan diriku. Aku malu pada temanku. Tolonglah aku!" kata tempayan retak.

          "Jangan bersedih, tempayanku. Kamu tetap memberikan nafkah padaku walau sedikit," hibur Pak Tua.

          "Benar Pak Tua. Dia memang sudah tidak berguna!. Akulah yang selama inimemberikan pendapatanterbesar untukmu," ujar si tempayan.

          "Siapa bilang kamu itu tidak berguna?" ada suara menimpali.

          "Kamu amat berjasa pada kami, tempayan retak. Hidup kami hampir mati karena setiap hari tersiram panas matahari. Tidak ada orang yang memelihara kami. Kamulah yang memberikan air kehidupan pada kami. Kamulah yang memberi kami tetesan-tetesan air dari tubuhmu yang retak. Kami menjadi hidup dan segar!" kata bunga-bunga liar.

          Pak Tua tersenyum bahagia. Kini ia tahu mengapa tempat gersang itu menjadi subur. Tempayan retak itu sangat gembira dan bersyukur. Karena walau tubuhnya telah cacat, ia masih berguna.

by Irene Gianda Fraulein

Kamis, 15 Januari 2015

Mawar Ungu



         Mawar  Ungu
Dahulu kala, hiduplah seorang Raja dengan tiga  orang Putrinya yang cantik. Herlina si Putri sulung, Sharina Putri kedua, dan Haliza si Putri bungsu.
       Ketika tumbuh dewasa, Putri Herlina sadar kalau dialah calon pengganti Ayahnya kelak. Itu membuat Putri Herlina menjadi sangat sombong. Sharina si Putri kedua, merasa kesal karena bukan dia yang kelak menjadi Ratu. Ia akhirnya menjadi Putri yang pemarah. Hanya Haliza si Putri bungsu yang tetap baik hati dan riang gembira.
       Pada suatu hari Raja jatuh sakit yang sangat parah. Tabib istana berkata “Hanya ramuan mawar ungu yang bisa menyembuhkan sang raja. Bunga itu tumbuh di sebuah pulau kecil di tengah telaga. Dan hanya seorang putri raja yang bisa memetik bunga itu!” kata Tabib istana.
       Ratu lalu mengutus Putri Herlina untuk pergi ke hutan dan memetik mawar ungu itu. Putri Herlina bersedia, namun ia minta ditemani sepasukan Pengawal dan diberi bekal makanan yang berlimpah.
       Esok harinya, rombongan Putri Herlina pergi menuju hutan. Dengan mudah mereka menemukan telaga yang dimaksud oleh Tabib istana. Di dekat telaga itu ada sebuah pondok kecil. Seorang Kakek buruk rupa duduk di depan pondok itu. Ia memiliki sebuah perahu yang tertambat di tepi telaga.
       “Kakek, berikan perahu itu padaku.” perintah Putri Herlina sombong.
       Kakek itu tersenyum. “Kalau aku meminjamimu perahu, apa yang akan Putri berikan padaku sebagai imbalannya?”
       “akan kuberikan kau sekantong emas dan berlian,” sahut Herlina.
       “Aku tidak butuh emas maupun berlian. Aku hanya ingin kau membersihkan pondokku ini dengan tanganmu sendiri.” Pinta Kakek buruk rupa.
                “Aku Putri Raja, tidak pantas kau bicara begitu!” Herlina melotot marah.
       Ia lalu menyuruh pengawalnya mengambil perahu itu dengan paksa. Pengawal segera melaksanakan perintah. Namun, setiba di sisi perahu itu, ia memekik kesakitan dan jatuh pingsan di tepi telaga. Beberapa Prajurit menyusul untuk menolong teman mereka. Namun mereka pun jatuh pingsan di tepi telaga.
       Herlina ketakutan. Ia tidak mau membuang nyawa karena mendekati telaga beracun itu. Ia mencari Kakek tadi, namun Kakek itu sudah masuk ke pondoknya dan menutup pintu. Akhirnya Herlina kembali ke istana tanpa hasil.
       Ratu lalu menugaskan Sharina si Putri kedua. Sama seperti kakaknya, ia pun minta sepasukan pengawal dan perbekalan lengkap. Sharina juga bertemu si Kakek dan meminjam perahu.
       “Untuk apa Tuan Putri ingin ke tengah telaga telaga beracun ini?” tanya si Kakek.
       “Berikan saja perahumu! Tidak usah banyak tanya!” bentak Sharina galak.
       “Huh, gadis sombong. Aku tidak mau meminjamkan perahuku,” gerutu si Kakek, lalu masuk ke pondoknya.
       Sharina menyuruh salah satu prajuritnya untuk mengambil saja perahu itu walau tidak di izinkan Kakek tadi. Namun, kejadian seperti yang di alami Putri Herlina terjadi lagi. Prajurit-prajurit yang mendekat ke telaga langsung terjatuh pingsan. Sharina pun kembali ke istana dengan gagal.
       Ratu sedih karena penyakit Raja semakin parah. Akhirnya Putri Haliza memutuskan untuk pergi. Ia tidak mau dikawal dan hanya membawa perbekalan secukupnya. Ratu mendoakan Putri bungsunya, harapan satu-satunya.
       Seperti pengalaman kedua Kakaknya, Haliza juga bertemu dengan Kakek pemilik pondok di tepi telaga.
       “Kakek, apakah perahu itu milik Kakek? Bolehkah saya meminjamnya?” sapa Haliza dengan sopan.
       “Apa yang bisa kau berikan padaku, bila aku meminjamkan perahuku?” tanya si Kakek
       “Saya tidak membawa apa-apa, Kek. Tapi saya bisa membersihkan pondok, dan memasak makanan yang enak untuk Kakek!” jawab Haliza
       Si Kakek mengangguk dan mempersilahkan Haliza masuk ke pondoknya.
       Haliza segera membersihkan pondok si Kakek yang berdebu. Ia juga memasak makan malam si Kakek.
       Malam pun tiba. Si Kakek tertidur nyenyak di kamarnya yang sudah bersih. Haliza tertidur di dapur beralaskan tumpukan jerami. Di dalam tidurnya itu, Haliza bermimpi berada di taman bunga mawar ungu. Indah sekali. Tiba tangan Haliza, naik ke perahu.
       Haliza membisu dan menurut saja kerena kaget. Mereka pun menyebrangi telaga itu. Haliza heran, karena ia tidak mencium bau busuk seperti yang di alami kedua kakaknya.
       Mereka akhirnya tiba di pulau di tengah telaga. Pulau kecil itu penuh dengan mawar ungu. Persis seperti dalam mimp haliza semalam. Haliza memetik beberapa tangkai mawar ungu. Setiba di tepi telaga lagi, Haliza baru sadar kalau pondok si Kakek sudah lenyap
       “Oh, ke mana Kakek yang baik hati itu?” kata Haliza bingung.
       Pemuda itu tersenyum, “Akulah Kakek itu, Haliza. Aku Pangeran dari kerajaan lain. Waktu aku berburu dihutan ini, aku salah memanah rusa peliharaan seorang Penyihir. Penyihir itu marah dan menyihirku menjadi Kakek buruk rupa. Sihirnya akan hilang, bila aku bertemu seorang gadis yang baik hati dan mau menyayangiku.” ujar Pangeran.
       Sang Pangeran kemudian mengantarkan Haliza pulang ke istananya. Kedatangan Putri Haliza di sambut dengan gembira. Raja sembuh seketika setelah meminum ramuan mawar ungu. Putri Haliza pun menikah dengan Pangeran tampan, jelmaan si Kakek buruk rupa.

by Irene Gianda Fraulein