Mawar Ungu
Dahulu kala, hiduplah seorang Raja dengan tiga orang Putrinya yang cantik. Herlina si Putri
sulung, Sharina Putri kedua, dan Haliza si Putri bungsu.
Ketika tumbuh dewasa, Putri Herlina sadar
kalau dialah calon pengganti Ayahnya kelak. Itu membuat Putri Herlina menjadi
sangat sombong. Sharina si Putri kedua, merasa kesal karena bukan dia yang
kelak menjadi Ratu. Ia akhirnya menjadi Putri yang pemarah. Hanya Haliza si
Putri bungsu yang tetap baik hati dan riang gembira.
Pada suatu hari Raja jatuh sakit yang
sangat parah. Tabib istana berkata “Hanya ramuan mawar ungu yang bisa
menyembuhkan sang raja. Bunga itu tumbuh di sebuah pulau kecil di tengah
telaga. Dan hanya seorang putri raja yang bisa memetik bunga itu!” kata Tabib
istana.
Ratu lalu mengutus Putri Herlina untuk
pergi ke hutan dan memetik mawar ungu itu. Putri Herlina bersedia, namun ia
minta ditemani sepasukan Pengawal dan diberi bekal makanan yang berlimpah.
Esok harinya, rombongan Putri Herlina
pergi menuju hutan. Dengan mudah mereka menemukan telaga yang dimaksud oleh
Tabib istana. Di dekat telaga itu ada sebuah pondok kecil. Seorang Kakek buruk
rupa duduk di depan pondok itu. Ia memiliki sebuah perahu yang tertambat di
tepi telaga.
“Kakek, berikan perahu itu padaku.” perintah
Putri Herlina sombong.
Kakek itu tersenyum. “Kalau aku
meminjamimu perahu, apa yang akan Putri berikan padaku sebagai imbalannya?”
“akan kuberikan kau sekantong emas dan
berlian,” sahut Herlina.
“Aku tidak butuh emas maupun berlian. Aku
hanya ingin kau membersihkan pondokku ini dengan tanganmu sendiri.” Pinta Kakek
buruk rupa.
“Aku
Putri Raja, tidak pantas kau bicara begitu!” Herlina melotot marah.
Ia lalu menyuruh pengawalnya mengambil
perahu itu dengan paksa. Pengawal segera melaksanakan perintah. Namun, setiba
di sisi perahu itu, ia memekik kesakitan dan jatuh pingsan di tepi telaga.
Beberapa Prajurit menyusul untuk menolong teman mereka. Namun mereka pun jatuh
pingsan di tepi telaga.
Herlina ketakutan. Ia tidak mau membuang
nyawa karena mendekati telaga beracun itu. Ia mencari Kakek tadi, namun Kakek
itu sudah masuk ke pondoknya dan menutup pintu. Akhirnya Herlina kembali ke
istana tanpa hasil.
Ratu lalu menugaskan Sharina si Putri
kedua. Sama seperti kakaknya, ia pun minta sepasukan pengawal dan perbekalan
lengkap. Sharina juga bertemu si Kakek dan meminjam perahu.
“Untuk apa Tuan Putri ingin ke tengah
telaga telaga beracun ini?” tanya si Kakek.
“Berikan saja perahumu! Tidak usah banyak
tanya!” bentak Sharina galak.
“Huh, gadis sombong. Aku tidak mau
meminjamkan perahuku,” gerutu si Kakek, lalu masuk ke pondoknya.
Sharina menyuruh salah satu prajuritnya
untuk mengambil saja perahu itu walau tidak di izinkan Kakek tadi. Namun,
kejadian seperti yang di alami Putri Herlina terjadi lagi. Prajurit-prajurit
yang mendekat ke telaga langsung terjatuh pingsan. Sharina pun kembali ke
istana dengan gagal.
Ratu sedih karena penyakit Raja semakin
parah. Akhirnya Putri Haliza memutuskan untuk pergi. Ia tidak mau dikawal dan
hanya membawa perbekalan secukupnya. Ratu mendoakan Putri bungsunya, harapan
satu-satunya.
Seperti pengalaman kedua Kakaknya, Haliza
juga bertemu dengan Kakek pemilik pondok di tepi telaga.
“Kakek, apakah perahu itu milik Kakek?
Bolehkah saya meminjamnya?” sapa Haliza dengan sopan.
“Apa yang bisa kau berikan padaku, bila
aku meminjamkan perahuku?” tanya si Kakek
“Saya tidak membawa apa-apa, Kek. Tapi
saya bisa membersihkan pondok, dan memasak makanan yang enak untuk Kakek!”
jawab Haliza
Si Kakek mengangguk dan mempersilahkan
Haliza masuk ke pondoknya.
Haliza segera membersihkan pondok si
Kakek yang berdebu. Ia juga memasak makan malam si Kakek.
Malam pun tiba. Si Kakek tertidur nyenyak
di kamarnya yang sudah bersih. Haliza tertidur di dapur beralaskan tumpukan
jerami. Di dalam tidurnya itu, Haliza bermimpi berada di taman bunga mawar
ungu. Indah sekali. Tiba tangan Haliza, naik ke perahu.
Haliza membisu dan menurut saja kerena
kaget. Mereka pun menyebrangi telaga itu. Haliza heran, karena ia tidak mencium
bau busuk seperti yang di alami kedua kakaknya.
Mereka akhirnya tiba di pulau di tengah
telaga. Pulau kecil itu penuh dengan mawar ungu. Persis seperti dalam mimp
haliza semalam. Haliza memetik beberapa tangkai mawar ungu. Setiba di tepi
telaga lagi, Haliza baru sadar kalau pondok si Kakek sudah lenyap
“Oh, ke mana Kakek yang baik hati itu?”
kata Haliza bingung.
Pemuda itu tersenyum, “Akulah Kakek itu,
Haliza. Aku Pangeran dari kerajaan lain. Waktu aku berburu dihutan ini, aku
salah memanah rusa peliharaan seorang Penyihir. Penyihir itu marah dan
menyihirku menjadi Kakek buruk rupa. Sihirnya akan hilang, bila aku bertemu
seorang gadis yang baik hati dan mau menyayangiku.” ujar Pangeran.
Sang Pangeran kemudian mengantarkan
Haliza pulang ke istananya. Kedatangan Putri Haliza di sambut dengan gembira.
Raja sembuh seketika setelah meminum ramuan mawar ungu. Putri Haliza pun
menikah dengan Pangeran tampan, jelmaan si Kakek buruk rupa.
by Irene Gianda Fraulein
Tidak ada komentar:
Posting Komentar