Sabtu, 17 Januari 2015

Tempayan Retak

                                                                     Tempayan Retak

          Di sebuah desa terpencil, hiduplah Pak Tua. Pak Tua hidup dari berjualan air bersih yang diambilnya dari gunung. Alat yang digunakannya adalah sebuah pikulan kayu dan dua buah tempayan. Pak Tua menjual air itu ke penduduk desa. Pada suatu hari, sebuah tempayan milik Pak Tua retak. Tempayan itu memang sudah tua. Setiap Pak Tua mengusung pikulan, air dalam tempayan belakang menetes.

          Perjalanan Pak Tua cukup jauh. Ia harus melewati jalan setapak yang menurun. Kemudian melewati padang dan semak-semak. Padang itu sebenarnya indah karena ditumbuhi bung-bunga liar. Akan tetapi, pohon pohon besar ditempat itu sangat sedikit. Akibatnya, padang itu menjadi gersang karena terkena sinar matahari langsung. Bunga-bunga aneka warna tidak terlindungi dari sinar matahari yang terik. Pak Tua selalu merasa haus bila melewati tempat itu.

          Dari hari ke hari, retakan di tempayan Pak Tua semakin lebar. Air yang menetes semakin deras. Pak Tua belum mau mengganti tempayan itu. Ia amat menyayangi kedua tempayan yang telah memberinya nafkah itu.

          "Pak Tua, air yang kau antarkan semakin hari semakin berkurang saja, seharusnya tempayan itu diganti dengan tempayan baru," saran seorang pelanggannya.

          Pak Tua hanya tersenyum dan mengangguk.

          Betapa sedihnya si tempayan retak. Ia merasa tidak berguna lagi. Apalagi si tempayan, temannya selalu melecehkannya.

          Si tempayan retak amat sakit hati. Apa yang dikatakan temannya itu memang kenyataan. Dirinya sudah tidak berguna. Tempayan retak itu sedih setiap kali Pak Tua mengisi tubuhnya dengan air.

          "Pak Tua, buang saja diriku yang sudah tidak berguna ini!" pinta si tempayan retak.
 
          Pak Tua meletakkan pikulannya. Ia menghampiri tempayan retak dengan iba.

          "Tidak. Kamu telah berjasa, tempayanku. Bukan salahmu jika kamu menjadi retak ," kata Pak Tua menghibur.

          Pada suatu hari, tempayan retak sudah tidak kuat lagi menanggung deritanya.

          "Pak Tua, lebih baik kau hancurkan diriku. Aku malu pada temanku. Tolonglah aku!" kata tempayan retak.

          "Jangan bersedih, tempayanku. Kamu tetap memberikan nafkah padaku walau sedikit," hibur Pak Tua.

          "Benar Pak Tua. Dia memang sudah tidak berguna!. Akulah yang selama inimemberikan pendapatanterbesar untukmu," ujar si tempayan.

          "Siapa bilang kamu itu tidak berguna?" ada suara menimpali.

          "Kamu amat berjasa pada kami, tempayan retak. Hidup kami hampir mati karena setiap hari tersiram panas matahari. Tidak ada orang yang memelihara kami. Kamulah yang memberikan air kehidupan pada kami. Kamulah yang memberi kami tetesan-tetesan air dari tubuhmu yang retak. Kami menjadi hidup dan segar!" kata bunga-bunga liar.

          Pak Tua tersenyum bahagia. Kini ia tahu mengapa tempat gersang itu menjadi subur. Tempayan retak itu sangat gembira dan bersyukur. Karena walau tubuhnya telah cacat, ia masih berguna.

by Irene Gianda Fraulein

Tidak ada komentar:

Posting Komentar